Hey guys, kenalin nama
gue Irfan, dan di akte gue itu gak punya last name alias nama belakang, alhasil
nama gue Irfan “aja”. Kalian bisa panggil gue Irfan, ya lo mau panggil gue apa
lagi, nama gue Cuma Irfan. But, entah karena nama gue yang kependekan atau apa,
gini-gini gue punya banyak nama panggilan lho.
Tiap tempat itu punya panggilan tersendiri, seperti panggilan di rumah, SD, SMP, SMA, bahkan saat kuliah seperti ini. Di balik pendeknya nama gue ini, banyak yg bilang kalo gue paling enak pas ngebuletin LJK di kolom nama pas ujian berlangsung, ‘wah, lo paling cepet selesai dong ya ngebuletinnya’, kata temen gue. Yaelah, terus kenapa kalo gue ngebuletin cepet, lo mau ikutan ganti nama juga, misal nama lo Siti Cayank Dia Cellalu, terus lu ganti jadi cuma Siti aja, sok aja atuh kalo mau mah, yang penting lo bikin tumpeng nasi kuning dulu, biar lebih syari’i pergantiaan nama lo.
Tiap tempat itu punya panggilan tersendiri, seperti panggilan di rumah, SD, SMP, SMA, bahkan saat kuliah seperti ini. Di balik pendeknya nama gue ini, banyak yg bilang kalo gue paling enak pas ngebuletin LJK di kolom nama pas ujian berlangsung, ‘wah, lo paling cepet selesai dong ya ngebuletinnya’, kata temen gue. Yaelah, terus kenapa kalo gue ngebuletin cepet, lo mau ikutan ganti nama juga, misal nama lo Siti Cayank Dia Cellalu, terus lu ganti jadi cuma Siti aja, sok aja atuh kalo mau mah, yang penting lo bikin tumpeng nasi kuning dulu, biar lebih syari’i pergantiaan nama lo.
Ini juga merupakan awal
dimana gue sangat suka semua apapun yang berhubungan dengan Jerman, dari
bahasa, budaya, makanannya, dll. Cukup kecewa ketika mendengar bahwa gue gak
akan belajar bahasa Jerman, melainkan malah belajar bahasa arab. Karena di
sekolah ini ada siklus dimana setiap 2 tahun sekali akan ada pergantian bahasa
yang di ajarkan, dan kebetulan gue kebagian bahasa Arab. ‘ya walaupun gue gak
belajar bahasa Jerman, gue masih bisa ikut ekskul nya’, pikir gue. Setelah
promosi semua ekskul, tanpa pikir panjang gue langsung menambatkan pilihan gue
ke ekskul Deutsch Klub, sebutan untuk ekskul bahasa Jerman. Di tahun kedua,
prestasi gue terbilang lumayan, yaitu menjadi ketua DK dan sebagai peserta
olimpiade bahasa Jerman. Walaupun cuma jadi ketua lengseran, karena teman-teman
gue lebih milih OSIS ketimbang ini, ya gak papalah gue yang melanjutkan,
berhubung gue emang udah jatuh hati ama apapun yang berbau dengan Jerman. Selanjutnya
gue ikut olimpiade bahasa Jerman. Olimpiade ini dilaksanakan di SMAN 8 Jakarta,
dan pendaftarannya dilakukan di SMAN 12 Jakarta. Ternyata, SMAN 8 Jakarta ini
merupakan salah satu SMA favorit juga di Jakarta. Di ekskul ini juga gue
mengikuti event yang bertemakan Jerman, yaitu Deutschland Fuer Anfaenger, yang
di selenggarakan di Museum Nasional Jakarta. Di acara ini gue berhasil
ngeborong goodie bag, kaos, pin, poster, dan pulpen secara cuma-cuma. Senang
sekali gue berhasil membawa pulang atribut-atribut yang berbau Jerman. Saat SMA
juga gue baru pertama kali ngelakuin yang namanya pacaran. Walaupun pacarannya
hanya lewat sms aja, yaudah, mau diapain lagi. Katanya sih waktu SMA itu adalah
saat-saat yang sulit terlupakan, iya gak?. Ya itu yang gue rasain sampai saat
ini. Alhamdulillah gue lulus pada tahun 2013. Ini adalah moment dimana
anak-anak SMA mulai gencar untuk menentukan kuliah atau kerja. Gue memilih
untuk melanjutkan kuliah terlebih dahulu, karena kalo kerja dahulu, takut kalo
udah megang uang, gak mau melanjutkan kuliah lagi. Gue juga udah mengikuti
tes-tes untuk bisa masuk ke perguruan tinggi, ada SNMPTN, SBMPTN, UM UIN,
sampai sekolah kedinasan Politeknik Gajah Tunggal dan AMG gue tempuh, untuk
dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi. Untuk pilihan
dimana gue akan melanjutkan pendidikan, gue memilih Universitas Sebelas Maret,
alasan gue memilihnya karena UNS dekat dengan kampung gue. Sampai tulisan ini
dibuat, gue masih ada hasrat untuk bisa kuliah di UNS. Sambil menunggu
pengumuman hasil test dan mengisi waktu libur, gue mengikuti pelatihan kerja,
dengan jurusan Tata Boga, dan pada akhirnya hasrat gue di dunia kuliner
tersalurkan di sini. Tanggal pengumuman ujian tes masuk perguruan tinggi pun
tiba, alhamdulillah gue diterima di dua universitas berbeda tapi dengan jurusan
yang sama yaitu Agribisnis. Gue diterima di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Walaupun UIN dekat dengan rumah gue,
tetapi gue lebih memilih Untirta (sebutan untuk Universitas Sultan Ageng
Tirtayasa) dengan pertimbangan gue mendapatkan Bidikmisi, jadi gue kuliah tidak
perlu memikirkan biaya spp lagi, tinggal belajar yang benar aja.
| bersama teman" ppkd |
| ini gue lagi di UNS |



3 komentar:
riwayatnya lumayan juga ya.
lumayan apa nih kak?
Posting Komentar
bagi yang pengen berbagi cerita atau curhat ke gue bisa leave comment di bawah.