Jumat, 01 Mei 2015

Intro... me

Hey guys, kenalin nama gue Irfan, dan di akte gue itu gak punya last name alias nama belakang, alhasil nama gue Irfan “aja”. Kalian bisa panggil gue Irfan, ya lo mau panggil gue apa lagi, nama gue Cuma Irfan. But, entah karena nama gue yang kependekan atau apa, gini-gini gue punya banyak nama panggilan lho.
Tiap tempat itu punya panggilan tersendiri, seperti panggilan di rumah, SD, SMP, SMA, bahkan saat kuliah seperti ini. Di balik pendeknya nama gue ini, banyak yg bilang kalo gue paling enak pas ngebuletin LJK di kolom nama pas ujian berlangsung, ‘wah, lo paling cepet selesai dong ya ngebuletinnya’, kata temen gue. Yaelah, terus kenapa kalo gue ngebuletin cepet, lo mau ikutan ganti nama juga, misal nama lo Siti Cayank Dia Cellalu, terus lu ganti jadi cuma Siti aja, sok aja atuh kalo mau mah, yang penting lo bikin tumpeng nasi kuning dulu, biar lebih syari’i pergantiaan nama lo.
ini gue.
Gue adalah pemuda kelahiran Sragen, 12 Agustus 1995. Bagi yang gak tau Sragen itu dimana, Sragen adalah sebuah kabupaten yang berdekat dengan Solo. Pasti udah pada tau kan Solo itu dimana, maka dari itu biar kalian semua tau dimana tempat kelahiran gue, gue sandingin ama kota yang cukup populer ini. Di sini gue cuma numpang lahir dan hidup hanya beberapa tahun, sekitar 2-3 tahun. Setelah itu gue merantau ke Jakarta, ngikut orang tua gue di sana. Keren ya, kecil-kecil gue udah ngerantau ke Jakarta. Di Jakarta pula gue memulai riwayat pendidikan, di awali pada sebuah sekolah anak-anak yang bernama TK Melati I, di sini, umur gue yang masih 6 tahunan diajarin cara makan yang bener, mewarnai, sampe cara nangisin anak orang gue juga diajarin. Pada saat TK juga gue ngejalanin ritual, dimana setiap murid TK itu wajib untuk manasik haji di Pondok Gede, yang menurut gue, pas TK lo gak bakalan afdol kalo belum manasik haji di Pondok Gede. Gue lulus dari TK Melati I pada tahun 2001. Selanjutnya gue melanjutkan ke jenjang berikutnya, yaitu SDN Rawa Buaya 07 Pagi. Di sini gue punya sahabat yang emang udah jadi temen gue semenjak TK, tapi gue mulai merasa kehilangan pada saat SD ini. Kita sering maen bareng, makan bareng, sampe ngelakuin apa aja kita barengan (pikir sendiri). Dia juga selalu menjadi saingan terberat gue waktu SD, posisi gue selalu berada di bawah dia, belum pernah gue berhasil ngalahin dia soal rangking-merangking (banyak-banyak skor nilai). Saat naik ke kelas 3, sahabat gue ini pindah, dia pindah ke Bogor kalo gak salah. Kejadian ini ngebuat nilai gue turun di akhir semester, entah karena akibat kepergian dia atau karena faktor lain, yang jelas saat itu gue ngerasa ada yang beda aja. Setelah berjuang mati-matian,akhirnya gue bisa bangkit lagi, dan prestasi waktu gue SD lumayan bagus, di karenakan saingan gue. Gue juga udah nemu pengganti sahabat gue itu, yang nyampe sekarang kita masih berkomunikasi. Walupun akhir-akhir ini kita jarang kontekan, tapi gue harap dia gak ngelupain gue J. Pada tahun 2007 gue berhasil lulus dan melanjutkan ke SMPN 45 Jakarta. Dulu sih dibelakang 45 ada embel-embel RSBI nya atau kepanjangan dari Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional. Bisa dibilang sekolah ini cukup favorit di bilangan cengkareng dan sekitarnya. Lingkungan yang berdekatan dengan komplek imigrasi, yang mungkin jadi sekolah sasaran anak-anak komplek yang pinter-pinter. Di SMP 45 ini juga gue satu sekolah ama Febby ‘Blink’, walaupun kita gak saling kenal satu sama lain, tapi gue cukup tau dia aja kalo dia itu artis (pikiran anak jaman dulu). Nyesss. Gue berhasil lulus dari sini pada tahun 2010 dan melanjutkan ke SMAN 94 Jakarta. Awalnya gue berniat untuk melanjutkan sekolah ke SMK, tapi mereka semua menolak gue. Pilihan-pilihan SMK gue adalah SMKN 42 Broadcasting, SMKN 60 Tata Boga, SMKN 45 Multimedia. Semua menolak gue. Mungkin emang bukan jalan gue untuk bisa melanjutkan sekolah di SMK. Hampir frustasi juga saat itu, akhirnya gue memilih SMA aja untuk bisa sekolah, daripada gak dapet sekolah kan. Gue menjatuhkan pilihan gue ke SMAN 94 Jakarta. Tujuan awal gue memilih SMAN 94 adalah karena gue pengen belajar bahasa Jerman. Yaps, kata tetangga gue yang sekolah di sana juga bilang gini ke gue ‘bahwa lo juga akan belajar bahasa Jerman’. Dengan alasan itu gue menjatuhkan pilihan tersebut ke SMAN 94 Jakarta. Alhamdulillah, gue diterima di sana.
 
Ini juga merupakan awal dimana gue sangat suka semua apapun yang berhubungan dengan Jerman, dari bahasa, budaya, makanannya, dll. Cukup kecewa ketika mendengar bahwa gue gak akan belajar bahasa Jerman, melainkan malah belajar bahasa arab. Karena di sekolah ini ada siklus dimana setiap 2 tahun sekali akan ada pergantian bahasa yang di ajarkan, dan kebetulan gue kebagian bahasa Arab. ‘ya walaupun gue gak belajar bahasa Jerman, gue masih bisa ikut ekskul nya’, pikir gue. Setelah promosi semua ekskul, tanpa pikir panjang gue langsung menambatkan pilihan gue ke ekskul Deutsch Klub, sebutan untuk ekskul bahasa Jerman. Di tahun kedua, prestasi gue terbilang lumayan, yaitu menjadi ketua DK dan sebagai peserta olimpiade bahasa Jerman. Walaupun cuma jadi ketua lengseran, karena teman-teman gue lebih milih OSIS ketimbang ini, ya gak papalah gue yang melanjutkan, berhubung gue emang udah jatuh hati ama apapun yang berbau dengan Jerman. Selanjutnya gue ikut olimpiade bahasa Jerman. Olimpiade ini dilaksanakan di SMAN 8 Jakarta, dan pendaftarannya dilakukan di SMAN 12 Jakarta. Ternyata, SMAN 8 Jakarta ini merupakan salah satu SMA favorit juga di Jakarta. Di ekskul ini juga gue mengikuti event yang bertemakan Jerman, yaitu Deutschland Fuer Anfaenger, yang di selenggarakan di Museum Nasional Jakarta. Di acara ini gue berhasil ngeborong goodie bag, kaos, pin, poster, dan pulpen secara cuma-cuma. Senang sekali gue berhasil membawa pulang atribut-atribut yang berbau Jerman. Saat SMA juga gue baru pertama kali ngelakuin yang namanya pacaran. Walaupun pacarannya hanya lewat sms aja, yaudah, mau diapain lagi. Katanya sih waktu SMA itu adalah saat-saat yang sulit terlupakan, iya gak?. Ya itu yang gue rasain sampai saat ini. Alhamdulillah gue lulus pada tahun 2013. Ini adalah moment dimana anak-anak SMA mulai gencar untuk menentukan kuliah atau kerja. Gue memilih untuk melanjutkan kuliah terlebih dahulu, karena kalo kerja dahulu, takut kalo udah megang uang, gak mau melanjutkan kuliah lagi. Gue juga udah mengikuti tes-tes untuk bisa masuk ke perguruan tinggi, ada SNMPTN, SBMPTN, UM UIN, sampai sekolah kedinasan Politeknik Gajah Tunggal dan AMG gue tempuh, untuk dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi. Untuk pilihan dimana gue akan melanjutkan pendidikan, gue memilih Universitas Sebelas Maret, alasan gue memilihnya karena UNS dekat dengan kampung gue. Sampai tulisan ini dibuat, gue masih ada hasrat untuk bisa kuliah di UNS. Sambil menunggu pengumuman hasil test dan mengisi waktu libur, gue mengikuti pelatihan kerja, dengan jurusan Tata Boga, dan pada akhirnya hasrat gue di dunia kuliner tersalurkan di sini. Tanggal pengumuman ujian tes masuk perguruan tinggi pun tiba, alhamdulillah gue diterima di dua universitas berbeda tapi dengan jurusan yang sama yaitu Agribisnis. Gue diterima di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Walaupun UIN dekat dengan rumah gue, tetapi gue lebih memilih Untirta (sebutan untuk Universitas Sultan Ageng Tirtayasa) dengan pertimbangan gue mendapatkan Bidikmisi, jadi gue kuliah tidak perlu memikirkan biaya spp lagi, tinggal belajar yang benar aja.

bersama teman" ppkd
Di awal perkuliahan gue menikmati menjadi seorang mahasiswa, yang bebas untuk dapat menentukan pilihannya. Sampai saat menginjak di tahun ke dua gue berpikir lagi untuk ikut tes SBMPTN lagi, dan hasilnya gue di tolak juga. Sampai saat tulisan ini di buat gue sedang menginjak di semester ke 4, dan gue masih mencoba untuk bisa move on dari UNS, dengan cara ikut organisasi-organisasi, mengenal lebih banyak orang, dan dengan menyalurkan hobi baru gue, yaitu travelling. Seperti nya cukup intro dari gue, semoga kalian gak kapok lagi baca tulisan gue. Hahaha. See u.
ini gue lagi di UNS
      

3 komentar:

Anonim mengatakan...

riwayatnya lumayan juga ya.

Irfan Konietzenko mengatakan...

lumayan apa nih kak?

Irfan Konietzenko mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

Posting Komentar

bagi yang pengen berbagi cerita atau curhat ke gue bisa leave comment di bawah.